Voting Technology

Pesatnya perkembangan teknologi informasi memicu penggunaannya dalam berbagai bidang. Aplikasi-aplikasi berbasis transaksi elektronik, seperti: e-bankinge-procuremente-commerce; telah menjadi hal yang umum. Ide penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pengambilan keputusan melalui pemungutan suara (e-voting) pun, lebih jauh, telah muncul sejak akhir tahun 90-an. Dalam bentuk yang sederhana, penggunaan perangkat elektronik dalam pemungutan suara bahkan telah dimulai sejak tahun 60-an [1].

Saat ini, secara garis besar teknologi e-voting memungkinkan pemilih untuk melakukan pemilihan menggunakan beberapa cara. Pertama adalah dengan menggunakan punched card, dimana kepada pemilih diberikan sebuah kartu pemilihan (ballot) yang berisi nama-nama kandidat. Pemilih memilih kandidat-nya dengan cara melubangi punched card di tempat sesuai dengan posisi kandidat. Punched card disertai perangkat tambahan (Gambar.01) yang untuk melubangi kartu, dan membaca serta merekam secara elektronik informasi tentang kandidat mana yang dipilih oleh si pemilih. Teknologi punched card pertama dipromosikan oleh IBM pada era 60-an dan saat ini dipertanyakan akurasi dan kehandalan-nya [2].

Votomatic

Gambar 01. Votomatic – Punched card voting system. Awalnya dikembangkan oleh IBM di sekitar tahun 1960 dan setelahnya menjadi alat pemungutan suara elektronik pertama yang sukses di pasaran [ibid 1]. (Source: wikipedia.org)

Berikutnya adalah Optical Mark Recognition (OMR). Mirip dengan sistempunched card, pemilih melakukan pemilihan dengan menggunakan ballot, hanya saja di sini pilihan diberikan dengan memburamkan lingkaran-lingkaran yang mewakili kandidat yang dipilih. Ballot kemudian dibaca secara elektronik dan kertas tanda telah melakukan pemilihan dicetak [ibid 2]. Dengan demikian, OMR menfasilitasi fungsi verifikasi pilihan yang sebelumnya tidak dimiliki sistem punched card.

Gambar. 02. U.S. OMR Ballot. (Source: Australian Electoral Commission)

Bentuk ballot elektronik yang lebih mutakhir adalah touch screen [ibid 2].Touch screen akan menampilkan nama, bahkan gambar, para kandidat dan pemilih memilih dengan cara menyentuh nama atau gambar kandidat yang menjadi pilihan-nya. Sistem ini memungkinkan rangkaian proses penyediaan dan pemaparan ballot, serta pemilihan oleh pemilih dilakukan seluruhnya secara elektronik.

Gambar. 03. Touch screen voting system. Teknologi touch screen memungkinkan ballot di-representasi-kan secara elektronik. (Source: tech-faq.com)

Ketiga cara pemilihan di atas dilakukan di tempat pemungutan suara (TPS) yang disediakan oleh penyelenggara pemilihan (election administrator). TPS dikondisikan agar perangkat-perangkat elektronik tersebut dapat bekerja , dan proses pendaftaran pemilih (voter registration) serta proses pemilihan (vote casting) terpantau dengan baik dan sesuai dengan aturan-aturan pemilihan. Tempat pemungutan suara yang demikian disebut sebagai controlled voting environment dimana election administrator memiliki kewenangan penuh terutama dalam: 1) memastikan bahwa pemilih adalah pemilih terdaftar; 2)memastikan bahwa pemilih terjamin kebebasannya pada saat memilih.

Cara pemilihan lain yang didukung oleh teknologi e-voting adalah internet voting [ibid 2]. Internet voting memanfaatkan teknologi internet untuk mengirim suara pemilih melalui internet protocol dan menyimpannya dalam server. Pemilih dapat melakukan pemilihan secara online menggunakan internet browser, dimana saja dan kapan saja selama waktu pemungutan suara. Dapat disimpulkan bahwa, berbeda dengan cara-cara pemungutan suara sebelumnya, internet voting dilaksanakan dalam uncontrolled voting environment. Election administrator tidak memiliki atau memiliki sedikit sekali kontrol atas proses identifikasi pemilih, kebebasan pemilih dalam menentukan pilihan, kerahasiaan suara, hingga aspek keamanan data.

Autentifikasi pemilih biasanya dilakukan dengan memberikan personal identification number (PIN) yang unik kepada setiap pemilih terdaftar untuk digunakan meng-akses sistem. Internet voting telah terbukti mampu meningkatkan jumlah keikutsertaan pemilih dalam pemungutan suara [ibid 2]. Harus disadari, bagaimanapun, bahwa keunggulan ini harus dibayar mahal dengan autentikasi, kebebasan, dan keamanan. (Manik Hapsara)

Referesi:

[1] Wikipedia, search: e-voting, http://www.wikipedia.org

[2] Colin Barry, Paul Dacey, Tim Pickering, Debra Byrne, Electronic Voting and Electronic Counting of Votes: A status report, 2001

=====================================================

Disclaimer:

Anda diijinkan untuk mengunduh, menyalin, mengutip, medistribusikan artikel ini secara cuma-cuma dengan syarat mencantumkan e-voting indonesia sebagai sumber rujukan. Untuk korespondensi hubungi:

evotingindonesia@gmail.com

 

Author profile:

Manik Hapsara, Ph.D. – Ketua Program Studi Sistem Informasi, Universitas Bakrie

=====================================================

 

Advertisements

Author: Manik Hapsara

E-Voting Researcher University of New South Wales Canberra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s