E-Voting versus Pemilih Muda

Asti Ratnasari

Dosen dan Peneliti E-Voting @ Universitas Alma Ata Yogyakarta

astiratnasari0103@gmail.com

Pesta demokrasi Pemilihan Umum Indonesia 2019 akan segera digelar. Di tengah perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini, terdapat wacana bahwa Indonesia siap untuk menerapkan e-voting pada Pemilihan Umum. Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumulo bahwa pemerintah siap untuk menerapkan e-voting pada Pemilihan Umum 2019 (Anonim, 2015b). Terlebih Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan sistem e-voting. Kepala Program e-Services BPPT, Andrari Grahitandaru menilai sistem e-voting yang dikembangkan lebih sempurna dibandingkan sistem serupa di negara lain (Anonim, 2015a).

Partisipasi pemilih dalam Pemilihan Umum menjadi salah satu kebutuhan untuk keberlanjutan demokrasi agar tidak terhambatnya sistem politik di Indonesia (Nurhasim, 2014). Berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2017, pemilih adalah warga negara Indonesia yang sudah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih, sudah kawin atau sudah pernah kawin. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali akan menggunakan hak suaranya. Pemilih pemula terdiri dari pemillih yang baru genap berumur 17 tahun, yang sudah kawin dan Purnawirawan/Pensiunan TNI. Pemilih Pemula berdasarkan usia berada pada rentang usia 17-21 tahun (Ratnasari, 2015). Data BPS menyebutkan jumlah pemilih pemula tidak kurang dari 15-20 persen. Jika pemilih pemula ini tidak diberikan pendidikan politik atau sosialisasi terkait pemilihan umum maka tidak menutup kemungkinkan akan dapat meningkatkan angka golput. Seperti sejarah pemilihan umum tahun-tahun sebelumnya dimana partisipasi pemilih terus menurun. Golput salah satunya dapat muncul karena sikap apatis pemilih karena kurangnya pendidikan politik dan sosialisasi.

Democracy Online Project menemukan bahwa semakin muda pemilih, semakin besar kemungkinan pemilih muda menggunakan Internet untuk mengakses informasi pemilu dan lebih tertarik untuk menggunakan e-voting dibandingkan dengan pemilih yang lebih tua (Anonim, 2001). Munculnya e-voting diharapkan  dapat meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilihan Umum 2019. Sejalan dengan penelitian Ratnasari (2015) di mana pemilih pemula lebih memiliki intensi untuk menggunakan e-voting pada pemilihan umum dibandingkan pemilih dewasa dan pemilih orang tua. Responden yang temasuk pemilih pemula dalam penelitian tersebut merupakan responden pada usia sekolah dan kuliah  yang memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi, menerima dan terbuka adanya teknologi baru. Namun, di tengah optimisme pemerintah dalam penerapan e-voting, muncul tantangan besar bagi pemerintah yaitu masih awamnya masyarakat tentang e-voting. Bahkan berdasarkan preliminary research Ratnasari (2015) terkait pengetahuan seputar e-voting di Desa Gondang, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten dari 350 responden menunjukkan bahwa 81,4 persen tidak terbiasa dengan istilah e-voting, sehingga sebelum e-voting diterapkan secara nasional maka dibutuhkan sosialisasi dan pengenalan e-voting kepada masyarakat terutama pemilih pemula. Mengingat e-voting ini berbeda dengan transaksi elektronik yang lainnya (Anonim, 2001). Kita dapat toleransi tentang tingkat kecurangan pada transaksi lain seperti ibanking, e-commerce, dan lain-lain, tetapi kita tidak dapat menerima kecurangan yang mungkin terjadi di proses pemilihan menggunakan e-voting. Lebih lanjut, pemerintah juga harus menelaah dan belajar tentang kegagalan negara yang lain yang terlebih dahulu menerapkan e-voting.

 

Referensi:

Anonim. (2015a). e-Voting Indonesia Sempurna, Tak Perlu Lagi Studi Banding. Retrieved April 4, 2018, from https://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-dan-material/2331-e-voting-indonesia-sempurna-tak-perlu-lagi-studi-banding

Anonim. (2015b). Mendagri Tjahjo: Kita Siap Terapkan e-Voting Pemilu Tahun 2019. Retrieved April 4, 2018, from https://www.bppt.go.id/teknologi-informasi-energi-dan-material/2330-mendagri-tjahjo-kita-siap-terapkan-e-voting-pemilu-tahun-2019

Anonim. (2001). Ten Things I Want People To Know About Voting Technology By Kim Alexander , President & Founder of the California Voter Foundation Presented to the Democracy Online Project’s National Task Force.

Nurhasim, M. (2014). Partisipasi pemilih pada pemilu 2014: Sebuah Studi Penjajakan. Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014: Sebuah Studi Penjajakan, 1–29.

Ratnasari, A. (2015). Analisis Intensi Masyarakat untuk Menggunakan E-Voting pada Pemilihan Presiden Indonesia (Studi Kasus: Desa Gondang, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten). Universitas Islam Indonesia.

Advertisements

Author: Manik Hapsara

E-Voting Researcher University of New South Wales Canberra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s